Semangat Kartini Hidup dalam Sosok dr. Hj Isna Farida: Menginspirasi Perempuan untuk Berkarya Tanpa Melupakan Jati Diri

oleh -1 Dilihat
oleh
Kartini
ISPIRATIF : Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut dr Hj Isna Farida

Ayobanua.com, Pelaihari – Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak hanya menjadi sejarah, tetapi terus hidup dalam langkah perempuan masa kini.

Salah satu cerminan nyata hadir dari sosok dr Hj Isna Farida, M. Kes, Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut, yang membuktikan bahwa perempuan mampu berdaya di ruang publik tanpa kehilangan perannya di dalam keluarga.

Momentum Hari Kartini setiap 21 April bukan sekadar seremoni baginya. Dengan mengajak seluruh jajaran perempuan di instansinya mengenakan kebaya, Isna ingin menanamkan makna yang lebih dalam: mengingat perjuangan panjang Kartini yang membuka jalan bagi perempuan untuk bermimpi lebih tinggi.

“Ini bukan soal pakaian, tetapi tentang kesadaran bahwa kita bisa seperti sekarang karena perjuangan beliau,” tuturnya, Kamis (23/4/2026) usai kegiatan Puncak Peringatan Hari Kartini yang digelar Pemkab Tala.

Di balik jabatannya sebagai pemimpin, Isna membawa kisah yang dekat dengan banyak perempuan.

Ia merasakan langsung bagaimana kesempatan pendidikan yang dulu sulit diperoleh perempuan, kini bisa diraih hingga jenjang tinggi.

Dengan dukungan keluarga, ia menempuh pendidikan hingga strata dua (S2)-sesuatu yang pada masa Kartini nyaris mustahil.

Namun yang membuat kisahnya semakin menginspirasi, bukan hanya pencapaian kariernya.

Isna menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus mengorbankan peran sebagai ibu dan istri.

Di sela kesibukan memimpin, ia tetap meluangkan waktu untuk hal-hal sederhana namun bermakna: memasak untuk keluarga, membuat kue, menjahit pakaian, hingga merajut.

Baginya, aktivitas tersebut bukan sekadar hobi, tetapi cara menjaga keseimbangan hidup dan menghargai identitas sebagai perempuan.

“Saya ingin selalu ingat bahwa saya adalah seorang ibu dan istri. Itu bagian dari diri saya yang tidak boleh hilang,” ungkapnya.

Kisah Isna Farida menjadi pengingat kuat bahwa perempuan tidak perlu memilih antara karier dan keluarga. Keduanya bisa berjalan beriringan dengan komitmen dan kesadaran diri.

Lebih dari itu, ia juga mengajak perempuan untuk tidak melupakan akar perjuangan. Bahwa setiap langkah maju hari ini adalah hasil dari keberanian perempuan di masa lalu yang menolak dibatasi.

Di akhir refleksinya, Isna hanya menyampaikan satu kata untuk Kartini: “Terima kasih.”

Sebuah ucapan sederhana yang mewakili rasa syukur sekaligus harapan-agar semangat Kartini terus mengalir dalam diri setiap perempuan Indonesia: berani bermimpi, terus belajar, berkarya tanpa batas, dan tetap menjadi diri sendiri.