Ayobanua.com, Banjar – Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mendorong guru sekolah dasar di Kabupaten Banjar mengembangkan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan penyusunan soal TKA Matematika SD berorientasi pada kemampuan koneksi matematis dengan konteks lingkungan lahan basah. Kegiatan berlangsung di SDN Tatah Pemangkih Laut 1, Kabupaten Banjar, Kamis (6/8/2026).
Pelatihan yang merupakan bagian dari Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Pendidikan Matematika FKIP ULM itu diikuti 60 guru yang tergabung dalam KKG Nanang Galuh Kabupaten Banjar.
Tim pengabdian Pendidikan Matematika FKIP ULM terdiri atas Rahmita Noorbaiti, M.Pd. sebagai ketua, bersama Dr. H. Karim, M.Si. dan Rahman Nul Hakim, M.Pd.
Kegiatan ini berangkat dari masih terbatasnya pelatihan bagi guru dalam menyusun soal TKA Matematika dengan mengangkat konteks lokal, khususnya lingkungan lahan basah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan.
Dalam pelatihan, guru diperkenalkan dengan berbagai jenis soal TKA sekaligus cara menghubungkan konsep matematika dengan kondisi nyata di sekitar siswa. Konteks yang digunakan mencakup kehidupan masyarakat di sekitar sungai, hasil agrikultur khas Kalimantan Selatan, hingga karya seni lokal.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat konsep matematika yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena disajikan melalui persoalan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa.
Selain meningkatkan kemampuan akademik, konteks lokal juga dinilai dapat membantu menumbuhkan penghargaan terhadap budaya serta kesadaran siswa untuk menjaga tradisi dan kelestarian lingkungan.
Tidak berhenti pada pemaparan teori, Pendidikan Matematika FKIP ULM juga mengajak para guru langsung mempraktikkan penyusunan soal. Peserta berbagi pengalaman mengenai pembelajaran dan pembiasaan soal sejenis TKA di kelas, kemudian menyusun soal secara kolaboratif.
Hasil evaluasi menunjukkan tingkat pengetahuan teoritis peserta mengenai TKA mencapai 80 persen. Peserta juga aktif selama pelatihan, mulai dari berdiskusi, mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, hingga menghasilkan soal dengan konteks lokal.
Ketua tim kegiatan, Rahmita Noorbaiti, M.Pd., mengatakan pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun soal TKA yang kontekstual.
“Penggunaan konteks lokal dalam pembelajaran dapat mempermudah peserta didik memahami konsep abstrak matematika melalui fenomena sehari-hari yang dekat dengan mereka. Selain itu, konteks lokal juga dapat mengembangkan sikap menghargai budaya serta kesadaran untuk menjaga tradisi dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Salah satu peserta, Isnaniah, S.Pd. dari SDN Tatah Bangkal, menilai soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan ketertarikan siswa.
“Soal yang dekat dengan kehidupan anak dapat membuat anak lebih tertarik dalam menyelesaikan soal,” katanya.
Sementara itu, Ketua KKG Nanang Galuh Kabupaten Banjar, Nita Andraeni, S.Pd., mengapresiasi pelatihan yang diberikan Pendidikan Matematika FKIP ULM.
“Pelatihan ini membuat guru dapat memahami cara menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata melalui konteks lokal,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Pendidikan Matematika FKIP ULM tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi guru dalam menyusun soal TKA, tetapi juga memperkuat pemanfaatan potensi lingkungan dan budaya lokal sebagai bagian dari pembelajaran matematika di sekolah dasar.







